Tren Hustle Culture di Antara Kita, Baik Atau Buruk?

Tren Hustle Culture di Antara Kita, Baik Atau Buruk?

Ilustrasi seseorang merasa gelisah dengan waktu | Sumber: Pexels (Andrea Piacquadio)

Dalam satu dekade terakhir, perkembangan karier yang bersinggungan erat dengan dunia teknologi semakin tinggi. Bisa dilihat, terutama sejak pandemi COVID-19, banyak pekerjaan yang bisa dengan gampang diselesaikan dengan bantuan teknologi ini, seperti mengirimkan e-mail, work from home, social media, digital service, dan lainnya. Namun, di balik kemudahan yang ada, serentetan dampak buruk terhadap psikologis dan kesehatan manusia juga hadir, salah satunya adalah hustle culture.

Motivasi untuk bekerja dengan keras dan tidak menyia-nyiakan waktu sedari muda menjadi kalimat yang diajarkan berulang kali pada generasi ke generasi. “Bekerja keras, pantang menyerah, jangan menyesal apabila gagal karena tidak berusaha” adalah tiga kata kunci utama bagaimana kemudian seseorang terbentuk menjadi workaholic. Gila kerja ini kemudian memiliki nama baru, yakni hustle culture itu sendiri.

Secara singkatnya, hustle culture adalah gaya hidup seseorang yang terus bekerja dan mengabaikan keseimbangan waktunya untuk istirahat dan kegiatan pribadi. Mereka terpacu untuk berjuang keras agar mendapatkan kekayaan, kesuksesan, kemakmuran, dan tujuan lainnya. Sebab itulah mereka bersikeras untuk gila kerja dan merasa tidak tenang apabila mengambil jeda waktu untuk bersantai.

Baca juga: Dunning-Kruger Effect, Nama Lain untuk Si Sok Pintar!

Hustle Culture Akrab dengan Kita

Sebenarnya, perilaku ambisius seperti ini sudah mulai ada sejak kita masih kecil lo, SohIB! Coba ingat-ingat kembali, saat dulu berada di kelas 3 SMA dan bersiap mengikuti ujian nasional dan masuk ke perguruan tinggi, apakah kamu seketika mengubah cara belajar menjadi lebih strict? Banyak orang tua yang merasa lebih tenang apabila anaknya mendapatkan jam belajar tambahan, meskipun sudah berkutat dengan pelajaran seharian.

Hustle culture kemudian menjadi kebiasaan yang ditularkan atau secara tidak sadar dipertahankan untuk momen-momen tertentu dan apabila dibutuhkan. Oleh sebab itu, tak heran banyak yang terkena stres apabila tidak survive menghadapi momen berat ini. Kegagalan pun dilihatnya sebagai pukulan yang hebat dan sulit bangkit kembali, atau kalaupun bisa bangkit, belajar tanpa henti akan jadi hukuman yang pantas baginya.

Di banyak perusahaan, budaya hustle culture juga menjadi momok bagi karyawan, apalagi di perusahaan rintisan berbasis teknologi. Banyak yang berpendapat bahwa gila kerja diperlukan karena persaingan kerja di era digital sangat ketat dan kantor bisa jatuh sewaktu-waktu.

Mengapa Seseorang Bisa Terkena Hustle Culture?

Hustle culture lebih banyak negatifnya daripada baiknya untuk diri kita | Sumber: Pexels (Nataliya Vaitkevich)

Alasan kita dapat menjadi gila kerja bisa banyak hal, seperti berikut ini:

  • Mendapatkan perusahaan yang memberikan target tinggi, bahkan tidak masuk akal.
  • Motivasi untuk memperbaiki kualitas hidup, seperti memiliki kendaraan pribadi, rumah, investasi, barang kesukaan, dan lainnya.
  • Sudah terbiasa dengan hustle culture sejak muda.
  • Sering terkena toxic positivity yang membuat orang mudah menyalahkan diri apabila tidak mau berusaha.
  • Kebutuhan yang mendesak, seperti ujian nasional, perlu uang cepat, atau akan mengikuti kompetisi.
  • Tuntutan lingkungan atau diri sendiri.

Di sisi lain, ketika individu terpacu untuk terus belajar dan mengejar impiannya tanpa batas, tentu saja usaha tidak akan mengkhianati hasil. Maka, SohIB bisa memperhatikan, mereka yang terbiasa menjadi workaholic biasanya mencapai kesuksesan lebih cepat atau kaya lebih besar.

Tak hanya itu saja, dari segi kemampuan, hustle culture ‘mendidik’ pekerja untuk memiliki kemampuan yang mumpuni, terutama di bidang manajemen waktu, organizing, dan adaptasi. Mereka bisa bekerja dengan cepat karena harus segera berpindah ke satu pekerjaan ke yang lainnya. Dedikasinya terhadap perusahaan pun patut diacungi jempol. Sehingga, orang-orang seperti ini dapat dikatakan sebagai karyawan impian bagi company.

Baca juga: Zoom Fatigue di antara Kita, Kenali Gejalanya!

Apa sih, Dampak Buruk Hustle Culture?

Gaya hidup ini nggak seharusnya dibiasakan oleh kita ya, SohIB! Kamu dapat terganggu mentalnya karena memaksa diri untuk bekerja tanpa istirahat. Seseorang bisa saja menjadi burnout karena work life balance-nya tidak terpenuhi dengan baik. Emosi dapat kurang stabil, mudah marah, dan trauma dengan karier-mu suatu saat nanti.

Dari segi kesehatan, tentu saja kamu tahu bagaimana efek buruk yang ditimbulkan karena begadang, duduk berlebihan, kurang olahraga, atau kurang tidur sekalipun. Lagipula, jikalau besok kamu benar-benar sukses, tetapi tidak lagi dalam kondisi sehat prima, mana yang lebih disesali?

Efek tambahan lainnya adalah SohIB sangat mungkin untuk kehilangan komunitas atau nikmatnya berteman. Hustle culture memaksa kita untuk fokus kepada pekerjaan tanpa memberikan jeda bersosialisasi. Sebelum benar-benar menyadari apa yang terjadi, bisa saja kamu sudah sendirian tanpa teman. Apakah kamu sanggup menghadapinya?

Cara Melindungi Diri dari Gila Kerja

Langkah paling utama untuk melindungi diri kita dari workaholic adalah menyadari apakah kita sudah terlalu berlebihan dalam bekerja. Bagaimana batasnya? Paling tidak, tanyakan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

  • Berapa jam aku tidur dalam sehari?
  • Dalam seminggu, berapa kali aku begadang untuk bekerja?
  • Bisakah aku makan dengan nyaman tanpa gangguan pekerjaan?
  • Berapa jam aku bekerja dalam sehari?
  • Bagaimana kondisi mentalku akhir-akhir ini? Apakah sering marah, sedih, cemas, atau bingung?
  • Kapan terakhir kali aku bertemu dan nongkrong dengan teman-teman?
  • Apakah aku memiliki me time yang berkualitas?

Jawabanmu pada poin-poin di ataslah yang akan menunjukkan, apakah SohIB sudah terjangkiti hustle culture atau masih dalam taraf normal.

Kemudian, berhentilah membanding-bandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Setiap individu punya timeline-nya masing-masing, meskipun dengan tujuan yang sama sekalipun. Carilah lingkungan yang positif, tetapi bukan toxic positivity yang hanya akan mendorongmu ke jurang yang lebih dalam. Berilah porsi yang adil untuk kehidupan pribadi dan kehidupan karier. Dengan demikian, kamu akan tumbuh menjadi pribadi yang tak hanya sukses, tetapi juga sehat.

Baca juga: Workaholic Berbeda dengan Hard Worker, lo! Ini Dampak Buruknya!

Jangan lupa untuk terus ikuti artikel-artikel seru lainnya hanya di sohib.indonesiabaik.id, ya! Banyak lo, informasi menarik nan lengkap yang harus banget kamu baca. Nggak hanya itu aja! Jika kamu memiliki passion di bidang kepenulisan dan ingin senantiasa berkembang, join jadi kontributor SohIB dan dapatkan banyak benefit-nya!

Oiya, SohIB.id juga punya komunitas keren yang selalu aktif memberikan berbagai pelatihan, webinar, diskusi, dan bagi-bagi merchandise cantik, lo! Skuy, langsung gabung aja di sini! So, sampai berjumpa lagi dan salam Sobat Hebat Indonesia Baik! (AJ)