Tips Berkomunikasi yang Menyenangkan, Nggak Hanya Sekadar Pintar Berbicara, lo!

Tips Berkomunikasi yang Menyenangkan, Nggak Hanya Sekadar Pintar Berbicara, lo!

Ilustrasi dua wanita sedang berbicara satu sama lain | Sumber: Unsplash (LinkedIn Sales Solutions)

Komunikasi sejatinya adalah interaksi antara dua pihak, yakni pembicara dan pendengar. Sedangkan di dunia ini, orang lebih banyak yang pandai berbicara, tetapi kesulitan untuk mendengarkan. Padahal, bisa menerapkan cara berkomunikasi yang baik itu dibutuhkan di hampir semua lini pekerjaan, lo!

Bahkan, sejak bangku sekolah dan perkuliahan, tentunya kita semua sudah pernah merasakan yang namanya presentasi bukan? Pada interview kerja pun, kita diharuskan untuk ngobrol tatap muka dengan HRD. Ini artinya, keahlian seperti good communication sangat penting dimiliki oleh setiap individu.

Nah, kali ini kita akan membahas bersama-sama tentang tips berkomunikasi yang menyenangkan. Ingat, kamu nggak hanya perlu bermodalkan pintar bicara saja, ya!

Baca juga: 7 Skill Ini Bisa Bikin Kamu Digaji Mahal di Tahun 2022

1. Jaga Kesopanan!

Nilai kesopanan harus dijunjung tinggi, meski dengan teman yang sebaya atau sudah dekat sekalipun. Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana suasana hati seseorang ketika berbincang dengan kita. Bisa saja, temanmu sebenarnya sedang badmood karena masalah keluarga, kemudian kamu tidak sengaja mengeluarkan jokes yang menyinggungnya.

Jadilah lawan bicara yang bisa membawa diri, meskipun tidak mengenal situasinya. Cara paling aman untuk menjadi teman yang baik adalah memilih pembahasan yang umum dan menyenangkan. Apabila obrolan berubah ke topik yang lebih khusus, itu seharusnya dikehendaki oleh pemilik ceritanya, bukan dari dirimu.

2. Mendengar dengan ‘Telinga’, Bukan ‘Mulut’

Poin kedua ini memang tidak mudah untuk siapapun. Terkadang ada beberapa orang yang tampak sok tahu, sok pintar, atau senang mendebat, sehingga kita yang mendengarkan ikut gemas untuk cepat-cepat menimpalinya. Ada juga yang memang punya sifat suka memotong pembicaraan lawannya. Apakah SohIB juga begitu?

So, dari sekarang harus belajar untuk mendengarkan dengan “telinga” ya, bukan dengan “mulut”. Maksudnya adalah dengarkan dengan seksama apa yang sedang dijelaskan oleh komunikator dan pahami maksudnya. Janganlah kamu justru sibuk memikirkan kira-kira jawaban apa yang harus disampaikan setelah dia selesai berbicara. Toh, tidak semua orang sebenarnya memerlukan solusi dari kita, melainkan hanya ingin curhat saja.

3. Gunakan Intonasi yang Baik dan Pengucapan yang Jelas

Ucapkan kalimat dengan jelas sehingga lawan bicara paham dengan maksudmu | Sumber: Unsplash (Glen Carrie)

Pernah nggak sih, SohIB bertemu lawan bicara yang ngomongnya suka ribet dan tidak jelas? Faktor yang membuatnya seperti itu bisa beragam, contoh paling umumnya adalah mispronunciation karena bukan ‘bahasa ibu’ dan tidak percaya diri. Apabila kedua hal ini yang menjadi masalahmu, cobalah untuk berlatih berbicara di depan cermin atau terus maju dan membiasakan diri sampai tidak lagi menjadi hambatan.

Para public speaker di luar sana juga tidak serta merta jago berpidato begitu saja, kok! Ada proses yang tidak mudah demi mendapatkan performa yang baik seperti yang SohIB lihat sekarang. Kamu juga bisa memilih percakapan dengan kata-kata yang lebih simpel dan mudah dipahami lawan bicara, alih-alih menggunakan kalimat yang terdengar sangat filosofis, misalnya “Kamu sudah haus belum?” daripada “Alangkah segarnya apabila di hari hujan seperti ini dinikmati dengan segelas teh hangat yang mengepul asapnya.” Lagipula, nggak setiap individu peka dikodein, lo!

Baca juga: 4 Manfaat Bergabung dengan Komunitas, Anak Milenial Wajib Ikut!

4. Ajukan Pertanyaan Umum, Jangan Terlihat Kepo

Senada dengan poin pertama tadi, lebih bijaksana apabila kamu tidak memaksa seseorang untuk menceritakan tentang dirinya, terutama untuk masalah pribadi. Biarkan dia yang memutuskan apakah kamu perlu tahu atau tidak. SohIB juga pasti kurang berkenan ‘kan, jika dikepoin padahal sedang tidak ingin curhat?

5. Tatap Lawan Bicara

Dengan menatap lawan bicara, ini berarti kamu menghargai keberadaannya di depanmu sekarang. Oleh sebab itu, ketika dalam sesi percakapan, singkirkan gadget dan barang lain yang sekiranya akan mendistraksi kita saat sedang berkomunikasi. Namun, apabila ada suatu kepentingan yang mengharuskan kamu mengalihkan perhatian kepada komunikator, mintalah izin dengan sopan dan meminta maaf. Atur waktu agar dia juga tidak terlalu lama menunggu untuk kamu bisa fokus kembali.

6. Tidak Mendominasi

Memang sih, di dunia ini ada individu yang memang lebih betah menjadi pendengar ketimbang berbicara. Namun, komunikasi yang baik adalah interaksi yang seimbang, tidak ada yang mendominasi. Apabila kamu menemukan lawan bicara yang pendiam, ajaklah dia untuk menceritakan apa saja hingga dirinya nyaman untuk lebih terbuka. Sedangkan bila kamu yang tidak terbiasa banyak ngobrol, persiapkan topik yang sekiranya bisa kamu lontarkan saat situasi sudah mulai krik-krik.

7. Setiap Orang Punya Pengalaman yang Berbeda

Benar sekali, setiap dari kita punya pengalaman dan rasa yang berbeda, meskipun menghadapi situasi yang sama. Oleh karenanya, sangat dianjurkan untuk tidak selalu berkomentar dengan sudut pandang “aku atau saya” saja. Berilah timpalan yang lebih luas daripada terlalu memaksakan pandanganmu, yang sebenarnya juga belum tentu bisa diterima.

Kurangi awalan kalimat bernada cemoohan, kurang percaya, atau menyalahkan seperti, “Kalau aku sih…”, “Ah, masa? Kok, aku nggak gitu?”, “Kamu kali yang lebay!” atau “Kamu seharusnya..”. Pilihlah kata-kata yang lebih positif atau setidaknya, tidak mendesaknya untuk setuju dengan pendapatmu.

8. Kendalikan Emosi

Jangan bersikap berlebihan dengan topik yang dibahas | Sumber: Unsplash (krakenimages)

Jangan emosi berlebihan, kendalikan dirimu. Apabila lawan bicara sedang menceritakan sesuatu yang menyedihkan atau membuatmu marah, tahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang akan kamu sesali nantinya. Pun juga dengan ketika cerita tersebut sangat menggembirakan atau lucu, tertawalah secukupnya. Sebab, bila kamu terlalu ekspresif, bisa jadi mengganggu ketenangan orang lain di sekitarmu.

Menjadi komunikator dan komunikan yang baik perlu waktu dan usaha yang konsisten. Namun, yakinlah kamu akan berhasil suatu saat nanti. Lagipula, berkomunikasi adalah kebutuhan kita sehari-hari dalam berdiskusi, meminta, dan menanggapi sesuatu, sehingga secara tidak langsung pun, kita sudah berlatih.

Yang harus diingat, setiap orang bisa menjadi pendengar dan pembicara, tetapi tidak semua mampu menerapkannya dengan baik. Karena itulah, ada yang mungkin jadi tersinggung dengan perkataan seseorang atau gagal menyampaikan pesan. So, yuk, semangat untuk jadi good communicator!

Baca juga: 6 Soft Skills yang Wajib Dikuasai Sebelum Usia 30

Jangan lupa untuk terus ikuti artikel-artikel seru lainnya hanya di sohib.indonesiabaik.id, ya! Banyak lo, informasi menarik nan lengkap yang harus banget kamu baca. Nggak hanya itu aja! Jika kamu memiliki passion di bidang kepenulisan dan ingin senantiasa berkembang, join jadi kontributor SohIB dan dapatkan banyak benefit-nya!

Oiya, SohIB.id juga punya komunitas keren yang selalu aktif memberikan berbagai pelatihan, webinar, diskusi, dan bagi-bagi merchandise cantik, lo! Skuy, langsung gabung aja di sini! So, sampai berjumpa lagi dan salam Sobat Hebat Indonesia Baik! (AJ)