Dari Bisu ke Bersuara: Perjalanan Membangun Ruang Aman bagi Korban Kekerasan Seksual untuk Berani Melawan

Dari Bisu ke Bersuara: Perjalanan Membangun Ruang Aman bagi  Korban Kekerasan Seksual untuk Berani Melawan

3 Mahasiswa Ini Rancang Aplikasi untuk Cegah Pelecehan Seksual, Ada Fitur "Panic Button" | Kompas

Oleh: Keisha Eleora Tambunan

Sub Tema : Memecah Kebisuan dan Tantangan dalam Melawan Kekerasan Seksual  

Tempat tinggal : Jawa Barat, Kota Bekasi

IG : @keishaa_eleoraa

#SohIBBerkompetisiArtikel

Di tahun 2014, di tengah gemuruh dunia yang terus berputar, terdapat suara-suara yang selama ini terpinggirkan, terdiam dalam keheningan pahit. Inilah kisah tentang seorang gadis, yang di usia dini harus menjadi korban kekerasan seksual. Seringkali ia tidak memiliki tempat untuk bersuara, untuk mengungkapkan penderitaan yang ia alami. Kita sebut saja dia Sarah. 

Sarah menyadari bahwa dunia ini terbuka untuk perilaku menyalahkan korban (victim blaming) dalam konteks kekerasan seksual. Dalam sebuah jurnal berjudul “Why Women Are Blamed for Being Sexually Harassed: The Effects of Empathy for Female Victims and Male Perpetrators” dipaparkan beberapa parameter yang dibuat untuk menentukan seberapa layak seorang perempuan disalahkan dalam isu kekerasan seksual, di dalamnya termasuk ketersediaan  melakukan kontak romantis berdasarkan persetujuan kedua belah pihak, jenis pakaian yang dipakai saat kejadian, dan mengundang atau menemani teman kencan ke tempat tinggalnya.  

Sebagai korban, Sarah tentunya takut akan segala bentuk reaksi menyalahkan dari orang-orang di sekitarnya. Bagaimana kalau mereka tidak memercayai cerita Sarah, menyalahkan Sarah,  merendahkan tingkat keparahan kekerasan seksual yang ia terima, atau bahkan perlakuan tidak  sesuai pasca tindakan kejahatan oleh pihak yang memiliki otoritas seperti yang dinyatakan melalui penelitian yang diberi judul “Secondary Victimization of Rape Victims: Insights from Mental Health Professionals Who Treat Survivors of Violence”. Sarah hanya ingin menemukan ruang aman, tempat di mana dia bisa berbicara tanpa takut dihakimi, tempat ia mengungkapkan rasa takut dan trauma yang menghantuinya. Tapi, miris, suara seorang korban kekerasan seksual di tengah lantangnya dunia tidak mendapat tempat. Padahal mungkin, dengan berbagi cerita, Sarah dapat menyembuhkan sedikit dari luka hatinya selama ini. 

10 tahun setelahnya, di tahun 2024, kisah yang berbeda terjadi pada Chloe. Di masa ini,  penggunaan teknologi sedang marak terjadi. Informasi dengan cepat diperoleh, kapanpun dan  dimanapun. Sayangnya, Chloe justru semakin menemukan banyak tindakan kekerasan seksual dan pelecehan seksual yang terjadi. Salah satunya, seorang pengguna Twitter yang pernah membagikan ceritanya tentang bagaimana foto-foto yang ia unggah di sosial media di rekayasa menjadi foto-foto yang vulgar dengan bantuan artificial intelligence (AI), fenomena deep fake. Tidak hanya itu, girl group favorit Chloe, IVE dan LE SSERAFIM juga harus mengalami hal yang sama, dijadikan objek seksual dengan teknologi itu. 

Taylor Swift deepfake porn inundates X, highlighting dangers of AI-generated content | France24 
Taylor Swift deepfake porn inundates X, highlighting dangers of AI-generated content | France24 

Di Instagram, Chloe juga menemukan kisah dari seorang gadis yang mengalami kekerasan seksual ketika sedang berada dalam transportasi online. Begitu juga, ia menemukan berita bahwa seseorang mengalami kekerasan seksual ketika sedang berjalan pulang sendirian di malam hari. 

Miris rasanya, melihat data yang tersaji dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Di tahun 2024 ini, 5.442 perempuan dan 1.334 laki-laki harus menjadi korban dari bejatnya perilaku kekerasan seksual. Meskipun situasinya sangat menyedihkan, terdapat hal positif yang patut disyukuri. Chloe kini bersyukur sudah banyak masyarakat yang lebih peduli dan empati terhadap korban kekerasan seksual. Mereka berkemauan tinggi untuk berperan secara utuh memerangi budaya pelecehan dan kekerasan. 

Di Amerika Serikat, dengan menyusun keluhan DMCA secara resmi, korban deepfake pornography dapat menghapus konten bermuatan seksual hasil rekayasa yang diunggah tanpa persetujuan tersebut dari internet. Selain itu, platform STOPNCII.org juga menjadi alternatif lain. Tentunya, upaya tersebut juga merupakan hasil dari dedikasi seseorang yang mau menggunakan kecerdasannya untuk fokus pada penyelesaian isu-isu di bidang kekerasan seksual. 

Komunitas-komunitas juga banyak bergerak untuk membantu korban kekerasan seksual untuk menciptakan ruang aman bagi mereka serta memecah kebisuan dan tantangan. Dilansir dari Cosmopolitan Indonesia, beberapa komunitas tersebut adalah Komnas Perempuan, Lembaga Bantuan Hukum Apik, HelpNona, Koalisi Perempuan Indonesia, Yayasan Lentera Sintas, dan Yayasan Pulih. Berbagai upaya telah dilakukan komunitas tersebut, seperti membantu proses pemulihan trauma para korban yang tentunya akan berjalan dalam skala panjang dengan edukasi workshop dan konseling bersama pakar, kampanye secara daring, dan melaporkan kepada pihak berwenang untuk memperoleh keadilan secara hukum apabila diperlukan dan mendapatkan persetujuan korban. Salah satunya, sesuatu yang patut mendapatkan apresiasi dan perhatian adalah upaya Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu kabupaten Indramayu dan Koalisi Perempuan Indonesia kabupaten Indramayu melalui audiensi dengan pimpinan DPRD Indramayu menyampaikan rekomendasi seperti menyediakan anggaran pendidikan dan kesehatan bagi korban kekerasan seksual, memberikan bantuan sosial kepada korban kekerasan seksual, pendampingan hukum dan kondisi psikologis korban kekerasan, serta masih banyak lagi. Tentunya, mereka juga tetap mengutamakan prinsip untuk menjaga privasi para korban. 

Tiga orang mahasiswa dari Universitas Mercu Buana (UMB) melakukan studi literatur dan mencetuskan ide untuk merancang aplikasi perlindungan pelecehan seksual dengan nama Smart Integrated Sex Harassment Protecting (STRESSING). Dengan aplikasi ini, dengan satu kali tekan pada tombol panik, aplikasi akan mengeluarkan bunyi yang menakuti pelaku dan mengirimkan sinyal bahaya kepada pihak terhubung. Begitu juga dengan aplikasi G-Friendly, yang terhubung langsung dengan kepolisian, Komnas Perempuan, Kementerian PPA, dan P2TP2A di daerah pengguna. Dengan ini, data dan laporan kekerasan dapat dengan segera dapat ditindaklanjuti serta mendapatkan pendampingan dalam proses hukum dan psikis. Ternyata begitu banyak karya anak bangsa yang patut diapresiasi dan didedikasikan untuk isu ini.

3 Mahasiswa Ini Rancang Aplikasi untuk Cegah Pelecehan Seksual, Ada Fitur "Panic Button" | Kompas
3 Mahasiswa Ini Rancang Aplikasi untuk Cegah Pelecehan Seksual, Ada Fitur "Panic Button" | Kompas
Sederet Aplikasi Ciptaan Anak Bangsa yang Hadir untuk Bantu dan Lindungi Korban Kekerasan Seksual | Beautynesia
Sederet Aplikasi Ciptaan Anak Bangsa yang Hadir untuk Bantu dan Lindungi Korban Kekerasan Seksual | Beautynesia

Dari bisu ke bersuara, dari ketakutan menjadi keberanian. Kisah Sarah mengingatkan kita bahwa kekuatan untuk berani melawan dari korban, ditentukan oleh dukungan kita. Kisah Chloe mengingatkan kita bahwa di tengah kepedihan yang terjadi, dimana internet dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pelecehan dan kekerasan seksual, semakin banyak orang pula yang menyadari pentingnya mendukung korban kekerasan seksual dan memerangi budaya pelecehan dengan bantuan internet.

Dari kisah Sarah dan Chloe, kita diajak untuk membuka mata dan hati, untuk menjadi pendukung bagi mereka yang masih terpinggirkan, untuk bersama-sama membangun masyarakat yang lebih adil dan berempati. Mari bersama-sama berdiri di samping mereka, mendengarkan suara-suara yang selama ini terpinggirkan, dan bersama-sama membangun dunia yang lebih aman dan berkeadilan.