Budaya Catcalling di Lingkungan Terdidik: Apa yang Perlu Dibenahi?

Budaya Catcalling di Lingkungan Terdidik: Apa yang Perlu Dibenahi?

Stop Catcalling | Suci Fitrah Syari

Oleh: Suci Fitrah Syari

Sub Tema : Peran Mahasiswa dan Pendidik dalam Menciptakan Lingkungan Pendidikan yang Aman 

Tempat tinggal : Sulawesi Tengah, Tolitoli

IG : @sucifitrahsyari 

#SohIBBerkompetisiArtikel

Stop Catcalling | Suci Fitrah Syari
Stop Catcalling | Suci Fitrah Syari

“Halooo, dik” kata para senior ke seorang mahasiswi yang sedang berjalan menuju ruang jurusan. Sapaan seperti itu sering kali terjadi ketika berjalan di kampus, dan membuat mahasiswi itu merasa risih, meskipun sudah berpakaian tertutup. Beberapa waktu berlalu, mahasiswi tersebut kini menggunakan penutup wajah atau biasa disebut sebagai cadar. Namun insiden yang sama tetap terjadi, hanya saja ucapannya berubah menjadi islami, “Assalamualaikum, dik”. Meskipun sudah ditegur dan diingatkan untuk tidak melakukan panggilan seperti itu, karena mengganggu dan membuat tidak nyaman, namun pelaku menganggap panggilan tersebut hal biasa dan berdalih sebagai bentuk keakraban. Namun, dampak dari tindakan itu justru membuat mahasiswi tersebut merasa tidak aman dan membatasi ruang geraknya di lingkungan kampus.

Benarkah pemberian salam bisa disebut sebagai catcalling atau pelecehan seksual secara verbal di ruang publik? Mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa pelecehan seksual tidak hanya dalam bentuk sentuhan fisik, seperti colekan hingga pada pemerkosaan. Akan tetapi, tatapan, kedipan mata, siulan, panggilan tertentu, ataupun komentar terhadap bentuk tubuh seseorang dapat disebut sebagai bentuk pelecehan seksual. Catcalling merupakan pelecehan seksual secara verbal, dimana pelakunya memberikan perhatian yang “tidak diinginkan” oleh korban dengan ucapan, komentar, ataupun ekspresi bernuansa seksual atau mengarah pada objektifikasi tubuh perempuan.

Catcalling sering kali terjadi di ruang publik, termasuk di lingkungan pendidikan yang diharapkan menjadi tempat pendidikan moral dan etika, serta ruang aman bagi setiap orang. Hal ini tidak terlepas dari adanya persepsi keliru yang beredar di masyarakat, sehingga membuat pelaku secara sadar ataupun tidak sedang melakukan pelecehan. Kampus menjadi lingkungan pendidikan dengan tingkat kasus pelecehan dan kekerasan seksual paling tinggi dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya sejak tahun 2015 sampai 2021, dengan persentase 35 persen laporan kasus kekerasan seksual ke Komnas Perempuan. Sementara itu, Kemenristek juga melakukan survey di tahun 2020 yang menunjukkan, bahwa 77 persen dosen menyatakan kekerasan seksual pernah terjadi di lingkungan kampus, dan 66 persen di antara kasus tersebut tidak dilaporkan. 

 

Catcalling Sekedar Candaan

Kampanye Stop Catcalling | Sophie Sandberg (nytimes.com)
Kampanye Stop Catcalling | Sophie Sandberg (nytimes.com)

Kenapa catcalling sering dianggap sebagai candaan semata? Hal itu disebabkan karena pelaku tidak merasakan dampak negatif terhadap tindakan yang dilakukan, tidak melihat ada luka fisik yang dihasilkan, dan lingkungan sosial tidak menganggap tindakan tersebut sebagai perbuatan tercela, atau bahkan menjadi suatu “kebiasaan” di tengah masyarakat. Ada pengalaman yang membentuk persepsi terhadap tindakan catcalling lalu didefinisikan sebagai suatu candaan. Dalam teori Kekerasan Simbolik dari Pierre Bourdieu menjelaskan, bahwa pemaknaan seseorang terhadap suatu fenomena dipengaruhi oleh konstruksi nilai yang berulang-ulang dilakukan dan sudah berlangsung sejak lama, sehingga akan mempengaruhi makna dan tindakannya pada suatu fenomena yang dialaminya.

Jika kita melihat lingkungan sekitar, khususnya ketika berada di ruang publik, melewati sekelompok atau beberapa orang laki-laki, dengan mudah kita bisa menemukan siulan, salam, lirikan, ataupun komentar yang tertuju pada objektivitas terhadap tubuh perempuan. Hal yang sama pun terjadi ketika berada di lingkungan kampus. Penelitian yang dilakukan oleh Ramadhania (2021) tentang “Pengalaman Mahasiswa Berhijab yang Mengalami Catcalling di Kampus”, menunjukkan bahwa pelaku melakukan catcalling di ruang terbuka seperti  koridor kampus, lapangan, tempat parkir, kantin ataupun di area-area yang biasa digunakan oleh mahasiswa untuk berjalan. Hal tersebut menunjukkan, bahwa catcalling masih dianggap sebagai tindakan yang “biasa” di lingkungan pendidikan, sebab dilakukan secara terang-terangan. 

Banyak pelaku catcalling beranggapan, bahwa tindakan tersebut tidak berdampak negatif bagi korban, karena tidak menimbulkan luka yang secara langsung dapat terlihat. Persepsi inilah yang perlu untuk diluruskan. Bahwa, luka tidak hanya sebatas yang terlihat saja, namun luka yang tidak terlihat dapat menimbulkan trauma bagi korban yang akan sangat berpengaruh terhadap kehidupannya. Dampak catcalling bagi korban diantaranya secara psikis dapat menimbulkan rasa malu, takut, tertekan, risih, dan merasa telah dipermalukan dan direndahkan. Selain itu, tindakan tersebut juga menyebabkan ruang gerak korban terbatasi, disebabkan tidak merasa aman dan nyaman berada di ruang publik. Bahkan dapat menyebabkan korban trauma sesaat dan sensitif terhadap lawan jenis. 

 

Lingkungan Pendidikan Perlu Berbenah

Ruang Kelas | Pixabay (pexel.com)
Ruang Kelas | Pixabay (pexel.com)

Perbedaan pemahaman dan tingkat pengetahuan tentang catcalling menjadi faktor penyebab perilaku ini masih menjadi “budaya” di lingkungan pendidikan. Adanya stigma yang menganggap bahwa catcalling hanya bentuk candaan saja atau untuk menarik perhatian orang lain merupakan pandangan yang keliru. Stigma tersebut akan terus melekat apabila tidak ada lingkungan sosial yang mengingatkan, bahwa tindakan tersebut termasuk dalam pelecehan seksual. Menutup mata terhadap pelaku catcalling menunjukkan bahwa menjadi normal bagi perempuan untuk menjadi sasaran pelecehan. Untuk itu, diperlukan “Action” bersama dalam mencegah pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan kampus, termasuk tindakan catcalling yang sering kali disepelekan.

Melalui upaya pencegahan dengan melibatkan seluruh komunitas akademik dalam mendukung kampanye "Stop Catcalling di Lingkungan Kampus" dapat menjadi langkah awal. Kampanye ini bertujuan untuk menciptakan budaya akademik dengan nilai-nilai karakter yang positif, sehingga dapat melahirkan ruang aman dan nyaman bagi siapa saja di lingkungan kampus. Untuk itu, kampus perlu melakukan edukasi dengan menyediakan ruang-ruang diskusi yang mengkaji tentang berbagai isu sosial termasuk isu gender, sehingga secara komprehensif dapat dikaji perkembangan terhadap isu pelecehan dan kekerasan seksual. Selain itu, perlu diintegrasikan pula dengan program-program yang terdapat di organisasi atau unit kegiatan kampus, sehingga tercipta kolaborasi dengan berbagai pihak dari tingkat atas hingga bawah. 

Apabila setiap pihak bisa saling terintegrasi dalam advokasi kebijakan dan tindakan, maka diharapkan edukasi tentang pelecehan dan kekerasan seksual dapat memberi pemahaman sekaligus pemaknaan kembali terhadap persepsi-persepsi yang keliru, sehingga tidak ada miskonsepsi yang memberi kesan positif terhadap perilaku catcalling ataupun bentuk pelecehan lainnya. Hasil pemaknaan tersebut diharapkan dapat menjadi “nilai” yang dipegang oleh civitas akademik dalam bertindak, merespon, ataupun menindaklanjuti pelecehan dan kekerasan seksual, sehingga tidak lagi dibudayakan ataupun dinormalkan, melainkan dinilai sebagai tindakan yang salah. Self awareness atau kesadaran diri tersebut akan menjadikan institusi pendidikan sebagai tempat yang aman bagi setiap orang untuk belajar dan mengembangkan dirinya. 

Selain itu, melalui langkah represif dengan membentuk Layanan Pelaporan dan Konseling. Kemenristek telah mengeluarkan kebijakan tentang tugas Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di kampus. Namun, Satgas ini berfokus pada kasus-kasus berat, sehingga korban yang mengalami pelecehan seksual secara verbal membutuhkan alternatif layanan. Melalui layanan pelaporan dan konseling, kasus korban dapat ditindaklanjuti. Layanan tersebut juga menjadi wadah konseling untuk mengatasi dampak yang dialami secara psikis oleh korban. Selain itu, pelaku juga dapat diedukasi melalui layanan konseling untuk bisa memahami kesalahan akan tindakannya, sehingga tidak mengulangi perbuatannya kembali.