BELIX: Program Optimalisasi Peran Satgas PPKS dalam Perspektif Balance Scorecard melalui Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi Kolaborasi Berbasis Hexahelix

BELIX: Program Optimalisasi Peran Satgas PPKS dalam Perspektif Balance Scorecard melalui Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi Kolaborasi Berbasis Hexahelix

Kontribusi Hentahelix dalam Mencegah dan Mengatasi Kekerasan Seksual | Olahan Penulis | linkedin.com

Oleh: Muhamad Fadili

Sub Tema : Peran Mahasiswa dan Tenaga Pendidik dalam Menciptakan Lingkungan Pendidikan yang Aman 

Tempat tinggal : Jawa Barat, Kabupaten Sukabumi

IG : @muhamadfadili01 

#SohIBBerkompetisiArtikel

Peningkatan Kasus Kekerasan Seksual di Indonesia

Laporan kasus kekerasan di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2020, terjadi kekerasan sebanyak 20.499 kasus hingga tahun 2023 sebanyak 29.883 kasus dengan jumlah korban didominasi oleh perempuan (Kemenpppa, 2023). Berdasarkan jumlah kasus kekerasan tersebut, Mendikbudristek menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dari tahun 2020 sebanyak 2.400 kasus hingga pada tahun 2021 sebanyak 2.500 kasus (Firlianty et al., 2024).

Jumlah Kasus Kekerasan di Indonesia pada Tahun 2020-2023 | Olahan Penulis | kekerasan.kemenpppa.go.id 
Jumlah Kasus Kekerasan di Indonesia pada Tahun 2020-2023 | Olahan Penulis | kekerasan.kemenpppa.go.id 

Maraknya isu kekerasan terhadap perempuan telah menjadi permasalahan yang menakutkan terutama bagi mereka yang bekerja di luar rumah (Noviani, 2018). Pemberitaan media massa menyoroti adanya kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pendidikan mulai dari tingkat TK hingga perguruan tinggi (Oslami, 2021). 

Terjadinya kasus kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi membuktikan bahwa korban secara umum didominasi perempuan dan mereka menerima stigma buruk dari lingkungannya (Firlianty et al., 2024). Ketimpangan kekuasaan antara pelaku dan korban mengakibatkan korban dan saksi lebih memilih diam sehingga mengakibatkan kesenjangan antara laporan dengan kasus kekerasan aktual yang telah terjadi. Menurut Kemendikbudristek (2020), pernah terjadi kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi sebanyak 77% dan sebanyak 63% di antaranya tidak melaporkan kejadian tersebut karena khawatir akan mendapatkan ancaman dan stigma negatif (Firlianty et al., 2024). 

 

Solusi Saat Ini dalam Mencegah dan Mengatasi Kekerasan Seksual 

Kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi mengharuskan setiap instansi tersebut membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), salah satunya hal ini dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB). Pembentukan Satgas PPKS IPB didasarkan pada Keputusan Rektor IPB Nomor 280 Tahun 2022 tentang Pembentukan Satgas PPKS Periode Tahun 2022-2024. Hal ini berpedoman terhadap Permendikbud No. 30 Tahun 2021.

Peran Satgas PPKS di IPB saat ini dinilai belum terlalu berjalan dengan baik. Cara untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan tugasnya perlu dilaksanakan program yang dapat menguraikan peran mereka dari perspektif balance scorecard yang dikuatkan dengan kolaborasi komponen hexahelix.

 

BELIX: Inovasi Program Penguatan Peran Satgas PPKS dalam Perspektif Balance Scorecard 

Menurut Elistia et al., (2024), pada awalnya, Balanced Scorecard (BSC) dikembangkan pada awal tahun 1990-an oleh Robert Kaplan & David Norton sebagai salah satu kerangka kerja yang membantu mencapai keseimbangan yang diperlukan. Dalam lingkup PPKS, prioritas dari satgas PPKS di lingkungan perguruan tinggi adalah melakukan upaya pencegahan serta menangani situasi yang ada. Kerangka kerja balance scorecard ini membantu menerjemahkan strategi satgas PPKS ke dalam tindakan dari empat perspektif utama yakni perspektif pelanggan, keuangan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan.

Optimalisasi Satgas PPKS melalui Efektivitas Balance Scorecard | Olahan Penulis | kajianpustaka.com 
Optimalisasi Satgas PPKS melalui Efektivitas Balance Scorecard | Olahan Penulis | kajianpustaka.com 

 

Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Seksual Berbasis Kolaborasi Pentahelix

Beberapa studi tentang konsep hexahelix menunjukkan bahwa secara praktis, konsep tersebut mewakili pemetaan pemangku kepentingan secara menyeluruh. Konsep hexahelix menggabungkan kolaborasi quadruple helix dan quintuple helix innovation sebagai solusi untuk mempercepat implementasi program-program yang telah ditetapkan melalui sinergi antara berbagai elemen (Firmansyah et al., 2022). Konsep helix ini didasarkan pada ide bahwa kolaborasi antara berbagai pihak dalam pembangunan multi-sektor penting dilakukan karena proses, tujuan, dan tantangan yang dihadapi menjadi semakin kompleks (Kelvin et al., 2022). Kolaborasi hexahelix dalam mencegah dan mengatasi kekerasan seksual mencakup akademisi, dunia bisnis, komunitas dan masyarakat, pemerintah, media massa, serta hukum dan regulasi. (Zakaria et al., 2019). 

Kontribusi Hentahelix dalam Mencegah dan Mengatasi Kekerasan Seksual | Olahan Penulis | linkedin.com 
Kontribusi Hentahelix dalam Mencegah dan Mengatasi Kekerasan Seksual | Olahan Penulis | linkedin.com 

 

Peran Mahasiswa dan Tenaga Pendidik dalam Menciptakan Lingkungan Pendidikan yang Aman Ditinjau dari Perspektif Balance Scorecard 

Menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan seksual adalah tanggung jawab bersama. Mahasiswa dan tenaga pendidik memiliki peran krusial dalam mencapai tujuan ini. Ditinjau dari perspektif balance scorecard, mahasiswa dan tenaga pendidik memiliki peran yang sangat penting dan dapat diintegrasikan ke dalam empat perspektif utama. 

Dari perspektif pelanggan, mahasiswa memberikan umpan balik tentang program dan kegiatan. Tenaga pendidik mengevaluasi kebutuhan mahasiswa, mengembangkan materi edukatif, dan mengelola sumber daya untuk lingkungan pendidikan yang aman. Dalam perspektif keuangan, mahasiswa ikut serta dalam penggalangan dana untuk pencegahan kekerasan seksual. Tenaga pendidik memastikan efisiensi alokasi sumber daya. Dari segi perspektif proses bisnis internal, mahasiswa terlibat dalam pengembangan prosedur pelaporan. Tenaga pendidik memastikan kebijakan yang mendukung lingkungan belajar yang aman. Dari perspektif pembelajaran dan pertumbuhan, mahasiswa ikut dalam pelatihan dan tenaga pendidik memberikan pendidikan yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan. 

 

Peran Program BELIX dalam Pencapaian SDGs 

Dalam konteks Hexahelix, yang melibatkan kolaborasi antara akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, media, serta hukum dan regulasi, program BELIX berperan dalam mengintegrasikan berbagai stakeholder untuk menciptakan strategi yang komprehensif dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual; memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan sumber daya antar sektor untuk mendukung inisiatif yang berkelanjutan; dan mendorong inovasi dan solusi kreatif yang dapat diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan spesifik dalam konteks pencegahan kekerasan seksual. 

Dengan demikian, program BELIX berkontribusi terhadap pencapaian SDGs, khususnya tujuan 5 (Gender Equality), tujuan 16 (Peace, Justice, and Strong Institutions), dan tujuan 17 (Partnerships for the Goals) dengan memastikan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan seksual.

Inovasi program BELIX bertujuan untuk mengoptimalkan peran Satgas PPKS dalam empat perspektif balance scorecard mulai dari pelanggan, keuangan, proses bisnis internal, serta perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Efektivitas dan efisiensi peran satgas juga diperkuat dengan adanya kolaborasi berbasis hexahelix yang terdiri dari komponen akademisi, dunia bisnis, komunitas dan masyarakat, pemerintah, media massa, serta hukum dan regulasi. Setiap komponen stakeholder tersebut memiliki peran penting dalam rangka mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual. Pelaksanaan program ini tentu saja berkontribusi dalam perwujudan SDGs, terutama tujuan 5, 16, dan 17. Untuk mencapai hasil yang optimal, perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak hexahelix guna menciptakan lingkungan pendidikan yang aman tanpa adanya kekerasan seksual.