Bahaya Self-Diagnosis, Jangan Lakukan!

Bahaya Self-Diagnosis, Jangan Lakukan!

Self-diagnosis menjadi problem yang semakin diperparah semenjak kemudahan mengakses internet | Sumber: Unsplash (Bermix Studio)

Saat ini, sudah bukan hal baru bagi kita untuk mencari informasi apapun di internet, tak terkecuali seputar kabar kesehatan. Pernahkah kamu dalam kondisi tubuh yang sedang menurun, kemudian browsing untuk mengetahui kemungkinan penyakit yang dialami dengan gejala tersebut?

Meskipun memang bermanfaat untuk sekadar berjaga-jaga, hal ini bisa menjadi bahaya tersendiri, lo, untuk kita! Bayangkan, apabila SohIB merasakan sakit kepala, lalu mencari tahu di internet, dan mendiagnosis diri sendiri sebagai kanker otak? Padahal, tidak semua kondisi dengan gejala yang sama bisa dipastikan mengidap penyakit tersebut. Alih-alih pergi menemui dokter, justru kita meyakini diri sendiri dengan penyakit berdasarkan apa yang dibaca pada internet.

Situasi tersebut dinamakan self-diagnosis, yakni mengasumsikan diri sendiri memiliki penyakit berdasarkan pengetahuan pribadi atau informasi mandiri. Keputusan untuk mengambil pengobatan yang salah tanpa pengawasan dokter sangat mungkin terjadi untuk dilakukan.

Berikut ini adalah 5 bahaya self-diagnosis yang wajib SohIB tahu agar bisa menghindarinya. Sudah siap?

Baca juga: Mengenal Mindfulness, Agar Hidup Lebih Positif!

Menimbulkan Stress dan Kepanikan

https://unsplash.com/photos/bmJAXAz6ads Photo by https://unsplash.com/photos/bmJAXAz6ads Photo by Elisa Ventur on Unsplashon Unsplash
Siapa yang suka panik sendiri saat membaca informasi kesehatan dan gejalanya mirip dengan yang kita alami? | Sumber: Unsplash (Elisa Ventur)

Tak bisa dipungkiri, setelah membaca informasi gejala yang kita alami, kepanikan dapat menyerang, terutama saat penyakit yang ‘mungkin’ diidap adalah penyakit serius. Hal ini bisa memicu stress berkepanjangan pada sesuatu yang belum pasti dan tentunya akan sangat mengganggu keseharian.

Enggan Berkonsultasi dengan Tenaga Medis

“Serahkan masalah pada ahlinya!”

Ungkapan tersebut bukanlah isapan jempol semata. Ketika seseorang terlalu memercayai informasi yang diserapnya, mereka akan cenderung menolak mencari bantuan tenaga medis untuk memastikan prediksinya. Pada poin ini, penyakit mental menjadi salah satu yang paling banyak diasumsikan para pelaku self-diagnosis.

Tentunya, kondisi tersebut sangat disayangkan para ahli seperti psikolog dan psikiater. Sebab, untuk memastikan penyakit mental pada diri seseorang, perlu dilakukan serangkaian tes dan pengamatan. So, hati-hati ya, guys!

Salah mengonsumsi Obat

https://unsplash.com/photos/m1Hq4ibP9rc Photo by Volodymyr Hryshchenko on Unsplash
Salah mengonsumsi obat bisa menimbulkan efek samping yang meluas | Sumber: Unsplash (Volodymyr Hryshchenko)

Diagnosis yang salah bisa dipastikan menggiring seseorang untuk mengonsumsi obat atau menjalani treatment yang salah. Apa yang akan terjadi apabila penawar sakit yang kita minum ternyata menimbulkan efek yang tidak diharapkan?

Sebagaimana SohIB ketahui, beberapa medicine punya efek samping yang berat, seperti kerontokan rambut, moon face, gangguan kulit serius, kecacatan pada janin, hingga hipersex, dan keinginan melakukan tindakan kriminal.

Baca juga: Cara Mengolah Makanan Yang Sehat, Sudah Tahu?

Penyakit yang Sebenarnya Tidak Teratasi/ Menimbulkan Sakit Baru

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, self-diagnosis bisa menyebabkan gangguan kesehatan lainnya, lo! Tidak hanya itu saja, kasus terburuknya adalah penyakit yang sebenarnya ada pada kita, justru malah tidak tertangani dengan baik.

Contohnya, pada penyakit Lupus, gejala awalnya sulit dideteksi karena ciri-cirinya yang sangat beragam, salah satunya demam tinggi. Apabila seseorang yang demam salah mendeskripsikan indikasi yang dialaminya sebagai Lupus, mengonsumsi obat Prednison sebagai salah satu penawar Lupus justru akan menimbulkan masalah baru, salah satunya adalah pembengkakan pada wajah (moon face). Tak hanya itu saja, demam yang menyerangnya justru tidak tersolusi.

‘Mengedukasi’ Orang Lain dengan Informasi yang Salah

https://unsplash.com/photos/W3Jl3jREpDY Photo by LinkedIn Sales Solutions on Unsplash
Bayangkan apabila kita menyebarkan informasi yang salah kepada orang lain? Bisa gawat! | Sumber: Unsplash (LinkedIn Sales Solutions)

Sangat lazim pada zaman terkini untuk saling berbagi informasi dan pengalaman pada sesama penderita atau orang lain. Namun, jangan dibayangkan bagaimana kekacauan yang mungkin ditimbulkan apabila kabar yang salah disebarluaskan.

Wah, self-diagnosis ternyata memiliki beragam dampak yang tidak baik, ya, guys? Gimana menurut kamu? So, please banget jangan nekat melakukan ini! Lebih baik, konsultasikan apa yang kita rasakan kepada ahlinya. Apalagi, saat ini terdapat banyak platform online yang menyediakan beragam kebutuhan kesehatan dari rumah aja, termasuk tanya jawab dengan dokter.

Baca juga: 6 Menu Sehat nan Simple yang Wajib Dicoba

Jangan lupa untuk terus ikuti artikel-artikel seru lainnya hanya di sohib.indonesiabaik.id, ya! Banyak lo, informasi menarik nan lengkap yang harus banget kamu baca. Nggak hanya itu aja! Jika kamu memiliki passion di bidang kepenulisan dan ingin senantiasa berkembang, join jadi kontributor SohIB dan dapatkan banyak benefit-nya!

Oiya, SohIB.id juga punya komunitas keren yang selalu aktif memberikan berbagai pelatihan, webinar, diskusi, dan bagi-bagi merchandise cantik, lo! Skuy, langsung gabung aja di sini! So, sampai berjumpa lagi dan salam Sobat Baik Indonesia Hebat! (AJ)